Beranda » 6 Juni Bersejarah bagi Batavia

6 Juni Bersejarah bagi Batavia




NASA

Transit Venus 8 Juni 2004

Tanggal 6 Juni 2012 nanti akan menjadi momen yang tepat untuk merayakan peristiwa 251 tahun lalu, salah satu momen yang menandai perkembangan astronomi di nusantara.

Pada 6 Juni 1761, fenomena astronomi Transit Venus terjadi. Fenomena ini merupakan saat di mana Venus melewati permukaan Matahari, tampak sebagai bintik berwarna hitam, terlihat dari Jakarta.

Kini, seperempat milenium kemudian, Transit Venus kembali terjadi di tanggal yang sama. Transit Venus nantinya akan terjadi selama sekitar 7 jam, mulai sekitar pukul 5.14 WIB hingga 11.50 WIB.

Batavia dan Transit Venus 6 Juni 1761

Fenomena transit Venus terjadi dalam periode waktu dengan formula 8, 121, 5, 8, dan 105,5 tahun. Terakhir, Transit Venus terjadi pada tanggal 8 Juni 2004 yang lalu.

Saat Transit Venus berlangsung pada tahun 1761, Jakarta punya peran penting. Astronom asal Inggris, Edmund Halley (penemu komet pertama) merekomendasikan Jakarta sebagai tempat pengamatan terbaik saat itu.

Situs Langitselatan.com menguraikan bahwa pengamatan dari Jakarta (atau Batavia) akan memberi sumbangan bagi penghitungan jarak Bumi-Matahari, satu tantangan besar dalam dunia astronomi kala itu.

Jarak Bumi-Matahari merupakan konstanta penting dalam sistem heliosentris Coipernicus. Saat itu, jarak Bumi-Matahari akan dihitung dengan metode paralaks dengan memanfaatkan Transit Venus.

Paper Robert H van Gent dari Universitas Utrecht, Belanda, di Proceedings International Astronomicakl Union (IAU) tahun 2005 memaparkan bagaimana pengamatan di Batavia bisa terjadi serta proses dan hasilnya.

Diceritakan bahwa pada tahun 1760, astronom Perancis Joseph-Nicholas Delisle mengirim surat pada astronom Belanda, Dirk Klinkenberg, untuk bisa membantu astronom Perancis mengamati Transit Venus di Batavia.

Saat yang sama, Deslie juga mendengar bahwa Royal Society of London akan mengirim 2 astronomnya, Charles Mason and Jeremiah Dixon, untuk melihat Transit Venus di Sumatera.

Akhirnya, Deslie berpikir bahwa pengiriman astronom Perancis tak diperlukan. Ia meminta Klinkenberg untuk menghubungi pemerintah VOC di Batavia agar bisa menugaskan orang untuk melakukan pengamatan.

Awalnya, tugas akan diberikan pada Pieter Hermanus Ohdem, ahli matematika dan navigasi yang saat itu juga berpengalaman mengamati komet Halley. Tapi ternyata, Ohdem sudah dipulangkan ke Belanda tahun 1760.

Pengamatan Transit Venus akhirnya dipasrahkan pada Gerrit de Haan, kepala Departemen Pemetaan di Batavia dan Pieter Jan Soele yang saat itu menjabat sebagai kapten kapal VOC.

Pengamatan dilakukan dari pantai wilayah Sunda Kelapa, di tanah milik pastor Johan Maurits Mohr. Sebelum pengamatan, Mohr juga diminta menjadi penerjemah peta pengamatan Transit Venus buata Deslie.

Pada hari H, pengamatan berhasil dilakukan dari awal sampai akhir transit. Pengamatan dilakukan dengan 2 teleskop reflektor Gregorian dengan fokus 18 dan 27 inchi, oktan London Instrument dan jam saku.

Memang observasi dilakukan oleh de Haan dan Soale, tapi Mohr-lah yang menulis laporan hingga akhirnya diterbitkan di Verhandelingen terbitan tahun 1763.

Setelah 1761, Transit Venus terjadi pada tahun 1769. Menyongsong Transit Venus inilah, Mohr benar-benar mengembangkan dunia astronomi di Indonesia. Salah satu bentuknya adalah membangun observatorium.

Observatorium yang dibangun Mohr berlokasi di Gang Torong, kawasan Petak Sembilan. Bangunan observatorium telah rusak akibat gempa tahun 1780. Area observatorium kini dipakai sebagai area sekolah SD Katolik Ricci.

6 Juni 2012, ketika sejarah berulang

Transit Venus akan terjadi lagi 6 Juni 2012 nanti. Meski jakarta bukan lagi lokasi terbaik pengamatan, namun momen Transit Venus kali ini tetap layak dinikmati publik Jakarta dan kota lainnya di Indonesia.

Komunitas astronomi seperti Himpunan Astronom Amatir Jakarta (HAAJ) berencana menggelar pengamatan. Keikutsertaan dalam pengamatan adalah salah satu upaya merayakan momen ini.

Untuk melakukan pengamatan, diperlukan teleskop yang dilengkapi filter. Cara-cara pengamatan juga harus diperhatikan sebab berkenaan dengan Matahari yang bisa merusak pengelihatan.

Keikutsertaan meramaikan Transit Venus kali ini bukan hanya berarti menikmati fenomena astronomi semata, tetapi turut memperingati betapa Jakarta sudah menyumbangkan "sesuatu" bagi dunia.

Di samping itu, fenomena Transit Venus menjadi peristiwa sekali seumur hidup. Setelah tahun 2012, Venus baru akan melewati piringan Matahari lagi pada tahun 2117.

Momen nanti juga sekaligus menjadi ajang mengenal semesta. Siapa tahu, lebih banyak kalangan, terutama generasi muda, tertarik astronomi. Siapa tahu, nantinya akan ada orang Indonesia yang menemukan planet layak huni.
kcm