Beranda » Astronom Jepang Temukan Galaksi Tertua

Astronom Jepang Temukan Galaksi Tertua




Ilustrasi Galaksi (space.com)

Tim menghitung galaksi ini berjarak 12,91 miliar tahun cahaya.
Sebuah tim astronom Jepang menggunakan teleskop di Hawai mengatakan mereka telah melihat galaksi tertua yang belum ditemukan.

Para ilmuwan dari National Astronomical Observatory of Japan
menggunakan teleskop Subaru dan teleskop Keck di puncak Mauna Kea, Hawai. Tim menghitung galaksi tersebut memiliki jarak 12,91 miliar tahun cahaya.

Satu tahun cahaya merupakan jarak yang ditempuh cahaya dalam satu
tahun, sekitar 6 triliun mil atau 9,66 triliun kilometer. Melihat
jarak galaksi berarti melihat ke belakang suatu masa.

Richard Ellis, seorang ahli berpengaruh dalam kosmologi dan
pembentukan galaksi dari California Institute of Technology mengatakan karya terbaru ini lebih meyakinkan daripada beberapa klaim lain mengenai galaksi awal.

Ellis mengatakan klaim peneliti Jepang lebih kuat dan tidak dapat dibantah. Tapi, dia mengatakan tidak banyak perubahan dari temuan serupa oleh tim yang sama tahun lalu.

"Temuan ini merupakan temuan yang yang paling jauh tahan gugatan yang setiap orang dapat percaya," ujar Ellis seperti dikutip dari laman Guardian.

Pada 2010, sebuah tim Perancis dengan menggunakan NASA Hubble
Space Telescope mengklaim telah menemukan sebuah galaksi yang jauhnya 13,1 miliar tahun cahaya. Tahun lalu tim California yang menggunakan Hubble mengatakan telah melihat galaksi 13,2 miliar tahun cahaya. Kedua tim Hubble menerbitkan temuan di jurnal Nature.

Menurut Ellis, dua tim Hubble tersebut belum mengonfirmasi
temuan mereka dengan metode lain. Sebuah tim astronom Universitas Arizona State bulan ini juga mengaku telah menemukan sebuah galaksi yang jauhnya 13 miliar tahun cahaya menggunakan teleskop di Chile.

Teori saat ini menyatakan bahwa alam semesta lahir dari sebuah
ledakan yang disebut Big Bang, sekitar 13,7 miliar tahun yang lalu.
Para astronom menggunakan teleskop paling kuat yang mampu
mengamati lebih dalam permulaan alam semesta.

Penelitian para astronom Jepang akan dipublikasikan dalam Astrophysical Journal.

(sj)vivanews