Beranda » BATU LOHE : Pelabuhan Dinasti Ming ?

BATU LOHE : Pelabuhan Dinasti Ming ?



Batu Lohe, yang berada pada pantai timur berpasir putih yang berada dalam Dusun Balang Butung, Desa Balang Butung, Kecamatan Buki Kabupaten Selayar Sulawesi Selatan, nyaris tak terdengar lagi, tak tercatat pula dalam dokumen perencanaan pengembangan kepariwisataan Dinas Pariwisata Kabupaten Selayar sebagai zona pengembangan.

Padahal, Batu Lohe adalah sejarah panjang akan kemaritiman nusantara sejak zaman purba, hingga memasuki zaman pengusaan VOC yang “merajai” pelayaran tanah air kala itu, bahkan bukti lain adalah pahatan atau tulisan-tulisan beraksara Mandarin (China) yang diperkiran sudah ratusan tahun yang silam masih nampak kokoh.

Ketika mengunjungi tempat ini, nyaris tak percaya ketika menyaksikan pahatan “hidup” itu seakan-seakan baru terjadi lima tahunan lalu. Memang secara akal membuat orang bertanya, siapa yang lagi iseng menulis pada dinding-dinding batu karang yang demikian kokohnya, bahkan kekuatan dinding alam itu seolah tak pernah menggubris hentakan gelombang yang setiap saat menyerbunya.

Maka karena alasan itu pula, sehingga sebagian besar pengunjung pun berujar bahwa “tulisan” mandarin itu bukan sengaja dibuat oleh tangan-tangan terampil manusia, tetapi memang terjadi karena “buatan” alam itu sendiri.

Alasannya, pada ratusan atau mungkin ribuan tahun yang lalu, ketinggian rata-rata gelombang laut sangat besar, sehingga setiap hentakan ombak yang tak putus-putusnya itulah yang kemudian “melukiskan” huruf-huruf yang mirip sekali dengan sebuah tulisan atau kalimat dalam bahasa mandarin.

Baiklah. Kalau itu memang salah satu dugaan yang kuat, tapi pertanyaannya kenapa hanya pada tempat (pada dinding) karang itu, yang kira-kira panjangnya hanya sekitar 2 – 3 meter, demikian juga dengan tinggi karang yang menjadi tempat melekatnya tulisan itu pula sekitar 4 meter.

Memang semuanya ini belum ada jawaban yang pasti, warga setempat juga belum pernah mendapat keterangan baik dari hasil penelitian, survey atau pun analisa geologi yang dapat memastikan keaslian tulisan mandarin itu dibuat oleh manusia atau buatan alam.

Inilah yang menjadi misteri Batu Lohe yang hingga sekarang belum terungkap dengan jelas. Tetapi bagi masyarakat Balang Butung itu bukan soal, apalagi selama ini mereka masih sering mendapati barang-barang kuno, termasuk guci , piring, gelas, dan aneka perabot antik yang bertuliskan mandarin pula yang ditemukan di dalam semak-semak atau di sekitar tempat itu.

Menurut cerita tutur warga setempat dengan berdasarkan penuturan dari nenek moyang mereka, bahwa zaman dahulu Batu Lohe itu merupakan pelabuhan teramai yang menghubungkan antara Papua, Buton, Labuang Bajo, Larantuka (NTT) dengan Gowa – Makassar, Teluk Bone, Selat Banda, hingga Surabaya ataupun kota-kota lain di Sumatera.

Pelabuhan ini pula sebagai kawasan perlindungan bagi para nelayan dan pelaut jika dalam perjalanannya mengarungi Samudra Hindia tiba-tiba diterjang badai topan. Menurut warga, mereka bahkan sering membuat pemukiman ataupun tenda-tenda darurat untuk menanti musim badai (musim barat dan timur) berlalu. Setelah kedua musim tersebut reda, barulah para pelaut melanjutkan perjalanannya menuju ke tujuan masing-masing.

Penuturan warga ini pun cukup beralasan, karena disisi kanan pantai pasir putih yang panjang sekitar 500 meter, merupakan kawasan palung, kedalamannya tak terkirakan sehingga airnya pun berwana birukehitam-hitaman. Sehingga dianggap cocok untuk bersandar kapal-kapal ukuran besar, utamanya kapal-kapal dengan daya angkut ratusan ton.

Sedangkan pada zona pesisirnya, merupakan daerah yang sedikit landai, memang cocok untuk membuat perkemahan, dan lebih ke arah daratan lagi terdapat perkebunan kelapa yang sering kali digunakan para perekreasi untuk menikmati ikan bakar dengan air kelapa muda.

Semakin ke dalam, maka gunung yang menjulang tinggi seolah-olah menjadi atap bagi orang-orang yang berteduh. Sebagian ekosistem gunung tersebut masih hutan perawan, atau hutan kenari dengan diameter kayu yang masih besar-besar, atau rata-rata dua hingga tiga pelukan orang dewasa.

Jadi wilayah pelabuhan transit ini memang lengkap dengan 3 dimensi counturnya, ada perairan, pesisir atau daratannya, dan gunungnya yang menjulang tinggi. Sehingga kebutuhan pun rasanya terpenuhi, ada ikan dan lobster yang dengan sangat mudah dipancing, ada daratan dengan menyiapkan sumber air tawar, serta ada bukit-bukit dan gunung-gunung yang menyiapkan lahan perkebunan jagung dan ubi.

Sementara di sebelah kiri (utara) ada pula batu yang seolah-olah terpisah dari laut dan daratan. Orang Balang Butung menyebut batu feri, karena batu tersebut menyerupai bentuk kapal feri. Malah ada mitos yang berkembang bahwa sebenarnya itu bukan batu alam, tapi awalnya sebuah kapal besar kemudian terdampar dan mendapat kutukan akhirnya berobah menjadi batu.

Batu kapal ini memiliki panjang sekitar 15 meter, diamternya 5 meter, tinggi 20-an meter. Setiap pelancong yang datang ke kawasan ini, belum lengkap rasanya kalau belum mendaki batu kapal ini. Dan dari atas ketinggian, dapat melihat daratan besar Sulawesi Selatan dengan warna kehijauan yang menyatu dengan khaki langit.

Disebelah kiri batu kapal, dengan jarak sekitar 100 meter, disitulah terdapat tulisan mandarin yang hingga kini masih kokoh menantang setiap gelombang dan matahari pagi. Dan tak jauh dari dinding bertuliskan ini, juga disebelah kirinya (masuk ke daratan), merupakan kawasan yang subur dengan sumber air tawar.

Dengan adanya sumber air tawar tersebut, maka semakin menguatkan dugaan bahwa kawasan Batu Lohe adalah pelabuhan transit masa silam para pelaut-pelaut nusantara. Pelabuhan badai, karena memang khusus digunakan jika menghindari badai atau musim barat dan timur. Batu Lohe juga dapat disebut Pelabuhan Dinasti Ming, karena di dasar laut di depan pantai pasir itu diperkirakan sebuah kapal milik Dinas Ming China karam disitu sehingga setiap saat penduduk dapat memungut benda-benda berharga yang terbawa arus ombak ke pantai. Apalagi diperkuat dengan adanya tulisan China yang melekat pada dinding karang.

Semoga Batu Lohe juga menjadi pelabuhan hati bagi warga dan pemerintah Kabupaten Selayar, sehingga tempat bersejarah ini dapat lestari sepanjang abad. (S/I)
Iknul Fikli