Beranda » Cerita Multatuli dengan Hotel Binnenhof

Cerita Multatuli dengan Hotel Binnenhof



Ngetem selama berhari-2 nungguin Meneer Deandels yang suka jalan-2 di sekeliling Istana


Edward Douwes Dekker (Multatuli)

tujuannya Kang Multatuli untuk melakukan protest terhadap kekejamanya Deandels di Lebak.

Sedikit tambahan mengenai Hotel Salak yang dulunya bernama Hotel Binnenhof. Binnenhof mempunyai dua arti, terdiri dari dua kata “Binnen” dan “Hof” Binnen berarti “didalam” sedangkan “Hof” bisa berarti ” Istana Kerajaan” atau “Keluarga Kerajaan“. Arti “Hof ” yang lain adalah “taman” atau “pekarangan” . Jadi Binnenhof dapat diartikan secara bebas sebagai: Gedung “didalam lingkungan Istana” atau Gedung yang memiliki “Taman didalamnya” Gedung parlemen Belanda saat ini bernama Binnenhof berada di lingkungan Istana Soesdijk.




Hotel Binnenhof


Sampai dengan saat ini Hotel.Salak tetap melestarikan “Taman didalamnya” yang dapat ditemui jika anda masuk melalui lobby dan menuju kolam renang. Arti kedua “bagian dari Istana Bogor” karena “Postweg (Jalan pos) yang dibangun Daendels awalnya hanya merupakan “macadam road” yang jauh bedanya dengan jalan yang kita kenal sekarang, jalan tsb nyaris tidak membuat antara yang jelas antara Hotel Binnenhof dan Paleis van Gouveneur General (Istana sekarang). Pagar yang membatasi jalan dan halaman Istana dibangun seratus tahun kemudian.

Multatuli alias Eduward Douwes Dekker pernah bolak balik, jalan jalan setiap sore selama beberapa minggu (sejak tg 26 April 1856 hingga pertengahan bulan Mei) untuk menunggu kesempatan “bertemu” dengan Gouveneur General Charles Ferdinand PAHUD biasa disingkat Gubernur Jendral PAHUD yang tinggal di Istana Bogor saat itu.


E.D.Dekker tinggal beberapa hari di Hotel Binnenhof dan selanjutbya di hotel Bellevue Bogor Trade Mall sekarang). Koq pindah pindah? Eduard selalu kekurangan uang dan banyak hutang.Kemungkinan rekening hotel , konsumsi memberatkan koceknya. Gubernur Jendral Pahut sudah dikhabarkan mengenai adanya Edward .D.Dekker di Buitenzorg oleh residen Rangkas Bitung Dumaeyer Van Twist.


Demang Kartanatanagara



Mungkin “Binnenhof” terlalu mahal untuk Multatuli , lalu pindah ke Hotel Bellevue. Gubernur Jendral tidak bersedia menemui Multatuli karena Gubernur jendral Pahud “sangat kenal” Multatuli yang banyak hutang dan selalu dalam kesulitan keuangan yang parah. Pahud pernah “menolong” Multatuli agar dia dapat liburan ke Belanda setahun sebelumnya (1855) karena Multatuli tidak punya biaya yang cukup untuk “mudik”. Ketidaksediaan Pahud untuk menerima Multatuli di Istananya, karena menduga akan mendengarkan lagi keluhan Multatuli mengenai kesulitan keuangannya. Padahal Multatuli ingin melaporkan kelakuan Residen Dumaeyer Van Twist dan Demang Karta Nata Nagara yang telah memeras rakyat, merampas ternak dan hasil panen rakyat Lebak secara semena mena dengan peraturan perpajakan yang mereka kreasikan sendiri, tidak berbeda dengan “PERDA” di jaman sekarang.




Hotel Salak




Ketika akhirnya pada suatu sore pada bulan Mei 1886, Douwes Dekker secara “tidak sengaja” berpapasan dengan Pahud ketika Gubernur Jendral Pahud sedang “jalan jalan makan angin” di depan istananya terjadilah suatu pertemuan “informal” yang ditulis Multatuli dalam memoirnya sebagai “Pertemuan dengan si Bajingan Pahud”.




Terjemahan bebas memoir Multatuli kurang lebih sbb: Akhirnya aku bertemu dengan “Dia” setelah menunggu berminggu minggu, manusia tidak berhati nurani dan melecehkan diriku. Aku mengangkat topiku ketika berpapasan dengan “dia”, lalu dia membungkuk dan mengucapkan salam, seakan akan dia tidak tahu aku sudah lama menunggu kesempatan ini.



Selamat sore Tuan Dekker, apakah anda sehat sehat saja? Saya sangat terkejut menemui anda di Buitenzorg? Selamat sore yang mulia, saya sehat sehat saja. Apakah anda bersedia menemani saya minum the ? Terimakasih yang mulia, dengan sangat senang hati dan merasa sangat terhormat saya menerima undangan yang mulia.



Gubernur Jendral PAHUD




Residen Dumaeyer Van Twist





Kami berjalan menuju halaman belakang Istana, selama berjalan, Pahud sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun, juga tidak menanyakan maksud keberadaan saya di Buitenzorg. Bajingan ini pasti sudah mengetahui maksud keberadaan saya di Buitenzorg, melaporkan kejahatan yang dilakukan residen dan demang di Lebak.Tetapi dia sengaja tidak menanyakannya agar saya “risih” untuk mmemulai pembicaraan kesana.


Dia pasti sudah tahu bahwa aku akan melaporkan pesta pesta sex yang dilakukan residen dikediamannya, dengan remaja laki laki maupun gadis gadis Banten, menghamburkan uang Negara,keringat rakyat Banten. Residen Rangkasbitung Van Twist pasti sudah mengirimkan kurirnya dan mempengaruhi Pahut.


Ketika minum teh, kami lakukan tanpa memulai masalah “Lebak”, Pahut berbasa basi sepanjang waktu, aku tidak diberikan kesempatan sedikitpun memulai suatu pembicaraan ,aku tidak bisa melanggar “etiket” dengan memulai berbicara mengenai “lebak”, tanpa ada kesempatan dari Gubernur jendral Pahud.



Pahud berdiri , menjabat tanganku dan mengucapkan “Sampai berjumpa lagi”, setelah usai “minum teh”, mengantarku menuju Postweg. Aku akan hancurkan “dia”, akan kutulis kejahatan kejahatan yang mereka lakukan di Lebak dan ditanah Jawa. Tunggu, akan kutulis itu di Nederland agar rakyat Belanda mengetahui apa yang terjadi di Insulinde.


Makam Multatuli



Edward Douwes Dekker akhirnya “dipensiunkan” kembali ke Belanda.Menulis buku Max

Havelaar, berpindah pindah dari Amsterdam (Ned) ke Antwerpen (Belgia) , lalu ke Brussel (Belgia) dimana dia menyelesaikan bukunya”Max Havelaar”, meninggal di Swiss dalam “kesulitan keuangan” karena kegemarannya berjudi. Hak cipta bukunya berikut royalty telah dijualnya kepada penerbit “Van Gennep”.Tidak ada lagi uang yang tersisa.



Kecuali “segumpal rambut” dari seorang gadis dari Natal di Sumatera,yang disimpannya sampai akhir hayatnya dalam sebuah kotak perak tempat tembakau, rambut dari gadis pujaannya ketika dia ditempatkan beberapa waktu lamanya di Natal. Upi Ketek nama gadis itu, nama yang dia berikan kepada si gadis “Si upi pendek (kecil)”. Upi ketek menanak nasi, mencuci pakaiannya dan menemani Douwes Dekker siang maupun malam,kenangan yang tidak pernah dilupakannya.Ketika itu Upik Ketek berusia sekitar 13-14 tahun.




Douwes Dekker menulis semua ini didalam “memoirnya” , berikut korespondensinya dengan isrinya “Tinneke”, buah pikirannya, mimpinya, selama bertugas di Indonesia, selama avonturirnya di berbagai kota besar di Eropa ketika itu untuk “mencari keberuntungan ” dimeja judi atau “mencari ilham ” untuk bukunya “Max Havelaar”



Douwes Dekker memang sosok yang controversial, eksentrik, penulis yang piawai, perayu wanita nan canggih, terutama kehebatannya membohongi istrinya melalui surat suratnya yang dikirimnya dari Paris, Brussel, Genewa, tidak jarang sambil mencumbu pelacur yang menemaninya berjudi…. “un charmeur” kata orang Perancis. Hebatnya lagi, surat surat tsb tersimpan rapih dan diarsipkan oleh Douwes Dekker sendiri sebagai “Files of his life”.




Pahud akhirnya ditarik kembali ke Belanda, Dumaeyer van Twist yang tidak pernah menikah dicopot dari jabatannya, , meninggal karena syphilis di kampung kelahirannya. Berita kezoliman para penjajah saat itu akhirnya sampai ke telinga masyarakat Belanda melalui tulisan Edward Douwes Dekker. Terutama bagian dari “Max Havelaar” yang berjudul “Saija dan Adinda”



Catatan:



Dr. Setia Budhi




Eduward Douwes Dekker (Dr.Setia Budi) adalah keponakan dari Edward Douwes Dekker “Multatuli” penulis “Max Havelaar” Keduanya mempunyai nama yang sama karena “Multatuli” adalah “Bapak permandian” dari keponakannya “Eduward” biasa dipanggil “Edu” yang nantinya ikut dalam pergerakan Nasional mendirikan “Boedi Oetamo” dan men-Indonesiakan namanya menjadi “Setiaboedi” Masuk sejarah Indonesia modern sebagai Pahlawan Nasional.




Mengapa “Multatuli” tidak menjadi “Pahlawan Nasional? Jawabannya gamblang, Multatuli tidak bermaksud “me-merdeka-kan” rakyat Indonesia tetapi Multatuli sebatas ingin “me=manusiawi-kan” kolonialisme. Mungkin pada saat itu, hanya itulah kemampuan para “humanist” .Berbeda dengan awal abad ke 20 , ketika perhimpunan/partai politik mulai didirikan di Hindia Belanda, tumbuhnya kesadaran “Nasional” para intelektual “Inlanders” maupun “Indos”.

Saduran dari email Pak Upu

Bogor, 8 Mei 2012

Bagja