Beranda » Curhat Kartini dan Rencong Cut Nyak Dien, Sama-sama Pahlawan

Curhat Kartini dan Rencong Cut Nyak Dien, Sama-sama Pahlawan



~~ibu kita Kartini, putri sejati, putri Indonesia, harum namanya~~

Sepenggal syair lagu yang sering dulu dinyanyikan di sekolah sebelum beberapa dekade kemudian tergusur oleh lagu-lagu cinta, yang lebih suka dinyanyikan oleh anak-anak sekolah, bahkan oleh anak SD yang belum lama naik peringkat dari TK.

Lagu-lagu nasional atau lagu-lagu kebangsaan, kini sangat jarang sekali dinyanyikan kecuali pada moment tertentu. Anak-anak, remaja, pemuda-pemudi kita kini lebih suka menyanyikan lagu-lagu bernuansa cinta, kasih sayang, patah hati, bahkan perselingkuhan. Yang lebih miris lagi bahkan lagu-lagu yang bernuansa pornografi seperti; Belah Duren, Cinta Satu Malam, atau Hamil Duluan.

Di bulan April ini kembali aku teringat Raden Ajeng Kartini, sekaligus teringat pula lagu yang diperuntukkan kepada Kartini yang diciptakan oleh WR. Supratman, yang tak lain juga pencipta lagu kebangsaan (national anthem) Indonesia Raya.
Sangat jarang kita dengar kini orang menyanyikan lagu Kartini. Bahkan tak sedikit malah yang sudah lupa syair dan liriknya.

Kartini, didapuk sebagai seorang pahlawan emansipasi wanita Indonesia. Kartini yang merupakan anak seorang priyayi jawa ini terkenal dengan tulisan-tulisannya yang konon menginspirasi kebangkitan wanita di Indonesia (Hindia Belanda) pada waktu itu, Habis Gelap Terbitlah Terang. Menurut beberapa sumber sejarah, buku tersebut merupakan kumpulan surat-surat Kartini yang berisi curhat alias curahan hatinya kepada teman-teman Belanda-nya terutama Ny. JHA Abendanoen.

Sebegitu hebatnya surat-surat Kartini itu, yang cuma berisikan curhat, menjadikannya dianggap seorang pahlawan.
Aku jadi teringat sejarah wanita-wanita Indonesia lainnya; Cut Nyak Dien. Wanita Aceh istri dari Teuku Umar ini, harus berjuang mengangkat senjata (paling tidak pegang rencong bila bukan bedil), diantara desingan peluru tentara penjajah untuk dapat diakui kemudian oleh generasi berikutnya sebagai pahlawan. Atau Christina Marhta Tiahahu, wanita Maluku yang ikut berjuang mengangkat senjata melawan penjajah bersama Thomas Matullesy alias Pattimura.

Memang kontras sekali perbedaan antara RA Kartini dengan Cut Nyak Dien dan Christina Martha Tiahahu. Yang satu dengan tulisan yang berisi curhat untuk membangkitkan harkat dan martabat wanita, sedangkan yang lainnya berjuang dengan fisik, mengangkat senjata, berperang untuk sebuah kebebasan dan kemerdekaan agar bangsanya terbebas dari penjajah.

Di era kemerdekaan ini, para pahlawan adalah mereka yang masih hidup, sisa-sisa dari masa lalu, yang bila meninggal akan dikuburkan di Taman Makam Pahlawan. Yang sulit adalah, membedakan antara calon pahlawan dengan para pengkhianat negara yang berlagak heroik, padahal di belakang menggerogoti negara dan menipu rakyat.

Selamat Hari Kartini.
~~Wahai ibu kita Kartini, putri yang mulia. Sungguh besar cita-citanya bagi Indonesia~~

Irmi Suryaputra