Beranda » Eugenesis: Sejarah Kelam Eropa & AS abad-20 yang Hendak Dilupakan

Eugenesis: Sejarah Kelam Eropa & AS abad-20 yang Hendak Dilupakan



Pertama kali saya melihat soal Eugenesis ini di NGC di saluran tv kabel beberapa waktu lalu. Ideologi yang berdasarkan Sosialisme Darwin ini memukau bangsa Eropa, Amerika dan Australia pada abad 20 (tahun 1900-an).

Jadi kalau dilihat lihat, ya belum lama lama amatlah. Apalagi, dampaknya masih bisa ditelusuri hingga tahun 1980-an, ketika apartheid baru berakhir di Afrika Selatan dan bahkan hingga tahun 1990-an, ketika genoside yang dianggap ‘lain’ masih terjadi di Eropa (kasus Serbia-Bosnia-Kroasia).

Eugenesis, yang berdasarkan sosialisme Darwin ini bisa diartikan secara sederhana sebagai suatu sistem yang menganggap bahwa manusia itu harus kuat untuk survive. Tetapi ‘yang kuat’ itu dibikin secara sistematis melalui pemurnian ras yang dianggap unggul. Dan ras itu? ya ras kulit putih. Tetapi itupun masih dipilah. Ras kulit putih yang sehat secara fisik.

Penerapan lebih jauh Eugenesis ini adalah dengan mengidentifikasi manusia secara individual dan keluarganya. Selain warna kulit, yang dipisahkan juga adalah orang yang miskin, buta, bisu, tuli, down syndrom, dan cacat, kemudian akan ada treatmen kepada mereka, mulai dari ’sekedar’ dibikin infertil (atau tidak bisa berketurunan), hingga pembunuhan secara sistematis terhadap golongan yang dianggap ‘berbeda’ ataupun ‘lemah’ tersebut.

Dan yang mengerikan ketika masa itu, ide ini dianggap brilian. Berlomba lomba berbagai negara menganut sistem ini, dengan berbagai skala penerapannya. Sekarang, gerakan ini dianggap sebagai gerakan paling brutal dalam sejarah, pelanggaran hak asasi manusia terparah, yang menewaskan puluhan juta manusia.

Dan ini adalah berbagai contoh penerapan sistem tersebut di beberapa negara:

1. Amerika Serikat

Melalui lembaga yang disebut American Breeder Association, lembaga ini berhasil membuat kebijakan yang melarang pernikahan kulita putih dengan kulit bewarna. Selain itu, lembaga ini juga berhasil ‘menginfertilisasikan’ atau memandulkan 60.000 manusia yang cacat ataupun down syndrom.

Penerapan sistem ini masih berlaku di tahun 1960-an di AS, ketika segregasi kulit putih dengan kulit hitam masih diterapkan secara ketat. Dan pejuang kulit hitam yang vokal terhadap masalah ini, dibunuhi satu persatu (salah satunya ada yang difilmkan di film Ghosts of Mississipi).

2. Canada

Canada menerapkan Sexual Sterilization Act yang bukan hanya ditujukan kepada orang bodoh (ada test IQ-nya segala), kaum lemah dan cacat, tetapi juga kepada kelompok bewarna, utamanya suku Indian. Sekitar 3500 perempuan Indian disterilkan, sehingga mereka tidak bisa berketurunan. Dan bukan hanya itu saja, riset pada tahun 2011 menyebutkan, kalangan muda orang indian juga dibunuh secara sistematis.

3. Jerman

Saya tidak ingin berpanjang dengan menyebut berbagai negara lainnya. Cukup yang paling parah dan paling mengerikan, yaitu ketika Jerman dengan Hitlernya juga menerapkan ini.

Di Jerman, sterilisasi massal kepada kelompok cacat dan lemah ini mencapai 450.000 orang. Bahkan ribuan yang menderita down syndrom dibunuh secara sistematis.

Dan, pemurnian ras yang mereka lakukan sangat sistematis. Jika ada seorang tentara yang cerdas dan gagah, sudah dipastikan dia adalah bibit unggul yang diharapkan bisa membuahi sebanyak mungkin perempuan kulit putih jerman. Dan itu ada pestanya segala. Nanti, anak anak hasil pembuahan ini disatukan dalam tempat khusus, untuk diasuh dan dibina, agar menjadi kader Hitler yang militan.

Selain itu, tentu pembunuhan orang orang Yahudi, yang mencapai hingga 2 juta orang. Juga dilakukan dalam rangka pemurnian ras aria ini.

Eugenesis juga diterapkan di hampir merata di negara negara barat. Tetapi ada yang voluntary (seperti di Inggris, yang mayoritas parlemen menolak UU ini), tetapi banyak yang menjadi wajib. Dan kasus yang menimpa, bukan sekedar sterilisasi, tetapi juga pembunuhan sistematis terhadap orang lemah dan kelompok bewarna ini (kasus di Perancis, Belanda, Swedia, dsbnya).

Ketika menonton film NGC ini sambil merinding, komentator di tvnya bilang, ini memang sejarah kelam yang ingin dilupakan di Eropa. Tetapi tentu untuk sebagai pembelajaran juga, bahwa pada dasarnya manusia itu sama saja dimana mana. Bangsa bangsa diciptakan berbeda untuk saling mengenal dan saling belajar.

Tidak ada yang lebih baik dari yang lainnya. Kita dari tanah dan akan kembali ke tanah. Apa yang mau disombongkan?

Ilyani Sudardjat