Beranda » Evolusi Tuhan?

Evolusi Tuhan?



Aku kembali menulis hal-hal kecil yang ku pikirkan, ku lihat, dan ku baca. Aku tak ingin ditelan sejarah bahkan aku tak ingin mengulangi kesalahan dan kebohongan sejarah. Dari mana ide kesalahan sejarah itu muncul kepalaku? Dimulai dari suatu keraguan dalam bentuk pertanyaan, yakni bagaimana jadinya bila selama ini kita diberikan asupan data atau informasi yang keliru dan terus dipelihara? Apa benar kehidupan pra sejarah seperti yang ada di buku teks lama dan kitab? Aku tidak yakin masa pra sejarah dianggap tak memiliki peradaban yang maju sebagaimana yang kita ketahui saat ini. Bagaimana jika kemajuan manusia saat ini merupakan penemuan kembali masa-masa kejayaan manusia di masa lalu? Bahkan kemajuan saat ini belum apa-apa dibanding dengan kemajuan manusia dimasa lalu. Hal ini membingungkan karena kita hanya melihat sejarah sejauh 2000 tahun silam. Tapi sisa-sisa sejarah yang jauh lebih tua meninggalkan teka-teki yang luar biasa mengganggu kecerdasan manusia yang kemudian dialihkan ke hal-hal gaib. Aku tak sudi kalau aku yang nyata ini pada akhirnya hanya dianggap manusia purba yang tak berpakaian dengan sebatang tombak di tangan padahal saat ini aku sedang menulis di media eletronik yang terkoneksi dengan siapapun di dunia dengan bantuan internet. Aku juga tak ingin dianggap sebagai zat gaib oleh manusia ribuan tahun mendatang karena tidak menemukan jejakku. Aku adalah semua manusia dizaman ini.

Mengapa sejarah peninggalan Kota Tiahuanaco, peta kuno Piri Reis, fosil mata buatan, Bagdad Battery, Delhi Iron Pilar, jejak perang nuklir zaman prasejarah, peradaban Troy, kelender Suku Maya, dan berbagai keajaiban dunia lainnya berakhir tanpa penjelasan alias gaib? Berbagai negara di seluruh dunia mengisahkan lengenda-lengenda yang hampir sama terkait sosok hebat dari langit, yang dianggap sebagai Dewa-Dewa atau Tuhan Primitif. Aku memcoba berfantasi menembus batas sejarah maupun agama. Fantasi yang benar-benar gila, tetapi sedikit menggelitik. Mengapa aku memulai dengan fantasi? Umumnya kita berpegang teguh pada kenyataan saat ini, tapi kita lupa bahwa apa yang sekarang menjadi kenyataan mungkin kemarin masih merupakan impian dari seorang pengkhayal. Aku tak ingin bersikap seperti angsa yang kekenyangan yang tak mau menerima gagasan baru apalagi disertai dengan fakta-fakta yang unik.

Kita mulai dari masa ketika kecerdasan itu belum eksis, yakni masa sebelum lahirnya manusia-manusia homosapien. Ketika itu manusia bertindak menyerupai hewan tidak mengenal moral, bahkan melakukan hubungan seksual sesama jenis, sedarah dan bahkan dengan hewan. Mungkinkah? Buktinya sekarang hal seperti itu banyak terjadi. Kemudian sesuatu yang cerdas datang dan meneliti manusia purba, yang dalam legenda dikenal dengan perkawinan antara dewa dan manusia purba, atau manusia purba direkayasa melalui kecanggihan ilmu kedokteran sehingga muncul makhluk yang dikenal sebagai Adam. Dan dengan kecanggihan ilmu kedokteran pulalah diciptakan Hawa untuk melahirkan manusia modern selanjutnya. Hawa yang selalu diceritakan tercipta dari tulang rusuk Adam #bahasa biologi banget ya. Kemudian makhluk ini diajarkan berbagai hal. Itulah mengapa asal usul DNA manusia homosapien masih menjadi teka-teki. DNA manusia tidak berasal dari bumi. Apakah subspesies missing link yang selama ini dicari-cari penganut faham Darwinisme yang membedakan homosapien dengan manusia purba lainnya sesungguhnya tidak ada, karena missing link tersebut tidak lain adalah intervensi ‘Tuhan Primitif’ dalam menciptakan manusia berakal dari manusia purba. Runtuhlah sudah teori evolusi. Teori seleksi alam lebih relevan. Bagaimana ahli biologi menyikapi ini?

Manusia-manusia ini kemudian menggambarkan sosok cerdas itu sebagai Dewa-Dewa atau Tuhan Primitif yang selalu dikisahkan datang dari langit dengan suatu kendaraan yang belum pernah mereka lihat. Kita mengenal tentang agama langit alias agama samawi. Kita mengenal juga bagaimana para nabi berkomunikasi dengan makhluk luar yakni malaikat bahkan Tuhan, yang ‘turun’ dari langit. Begitu juga cerita Dewa-Dewi. Makhluk cerdas itu meninggalkan jejak bahkan manusia homosapien juga mengabadikannya dalam bentuk tulisan/simbol. Jejak itu menjadi tidak utuh kerena bumi mengalami berbagai perubahan iklam dan bencana selama ratusan ribu tahun, sisa sejarah yang tertinggal hanyalah benda-benda sejarah yang tahan terhadap berbagai kondisi perubahan alam. Namun sayang, ketika benda-benda berharga itu telah ditemukan, selalu dikaitkan dengan hal gaib yang berarti kebenaran dipaksa bungkam.

Dikisahkan para Dewa-Dewi atau Tuhan primitif itu sesekali mengunjungi bumi untuk melihat perkembangan manusia hasil rekayasa mereka itu. Manusia yang tidak berkualitas kemudian dimusnahkan, sehingga tersisa manusia yang relatif lebih berkualitas. Setiap kejadian pemusnahan selalu dihadirkan suatu tokoh/nabi atau sebutan lainnya. Selain itu kemusnahan juga terjadi akibat perubahan iklim. Manusia memulai lagi dari awal membangun peradaban, begitu seterusnya. Itulah kenapa penemuan-penemuan sejarah menunjukan bahwa peradaban di bumi ini telah ada dan banyak yang silih berganti. Manusia saat ini tidak hanya membangun peradaban yang lebih baik di Bumi melainkan mencoba menjelajah angkasa untuk membangun beberapa peradaban bahkan melakukan kontak dengan makhluk lain diluar sana.

Sains terus berevolusi, dan revolusi itu mulai benar-benar terjadi diabad ke 19. Bahkan saat ini sains sudah jauh melampaui sejarah-sejarah bohongan yang ada. Bagaimana agama menyikapi ini? Diakui atau tidak agama mengalami evolusi, agama mulai mengejar sains. Artinya agama tidak memberikan kebenaran tetapi melakukan pembenaran. Apa yang ditemukan oleh sains langsung diakuisisi oleh agama. Padahal kalau kita melihat track record-nya, tidak sedikit saintis yang berakhir di tiang gantungan akibat penemuan mereka. Dalam tulisan ini, beberapa kali saya menyebutkan kata ‘Tuhan Primitif’, sehingga muncul pertanyaan apakah Tuhan Modern eksis? Pertanyaan macam apa ini? #hehe. Yang membedakan Tuhan Primitif dan Tuhan Modern, yakni Tuhan Modern adalah Tuhan yang tidak bisa dipersonifikasikan dengan apapun, alias tidak bisa dipancaindrai. Baik kehidupan di bumi maupun kehidupan diangkasa luar sana adalah bagian dari ciptaan Tuhan Modern. Tuhan Modern ini eksis untuk menggugurkan Dewa-Dewi dan Tuhan Primitif.

Pencarian terus dilakukan oleh manusia, walau tidak pernah menemukan final destination, tetapi cahaya keberanan semakin terang. Akankah kita menerima kebenaran primitif mentah-mentah atau mencari dan terus mencari kebenaran yang ter-update. Namun, biasanya kebenaran hanya terungkap jika kita mampu melampau batas-batas kebenaran lama. Tapi tidak semua orang mau melampau batas-batas itu, karena kebenaran lama telah menakut-nakuti manusia dengan ‘neraka primitif’. Rasanya fantasi ini kedengaran terlalu berlebihan, ku akhiri dulu fantasi liar ini. Siapapun yang ingin mereaksi tulisan ini, marilah kita berdiskusi dengan santun.

LEstari Agusalim