Beranda » Gunung Salak dan Karakteristiknya

Gunung Salak dan Karakteristiknya




Lokasi jatuhnya pesawat Sukhoi Super Jet 100 (ANTARA/ TNI AU)

Seluruh gunung saat Sukhoi celaka tertutup kabut.
Tim evakuasi hingga 7 hari pasca jatuhnya Sukhoi Superjet 100 masih berjibaku mencari korban di lereng dan lembah Gunung Salak. Tim berkali-kali mengaku kesulitan menembus medan. Sebenarnya seperti apa karakteristik gunung api ini?

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Surono menuturkan, seperti halnya gunung api lain, Gunung Salak juga kerap diselimuti kabut.

"Semua gunung api itu berkabut. Ini sama dengan gunung api yang lainnya. Tidak ada yang khusus dari Gunung Salak ini," jelasnya.

Surono mengatakan dalam setiap pantauan PVMB secara visual maupun instrumental, gunung api diberikan kode soal kabut. Jika kabut hanya di puncak gunung, kode 01. Jika kabut menyelimuti separuh gunung, maka gunung diberikan kode 02. Kode 03 untuk kondisi gunung tertutup kabut seluruhnya.

"Yang buat saya kaget, Sukhoi turun ke 6.000 kaki. Padahal, Gunung Salak ketinggiannya 7.200 kaki. Secara nyata itu pertimbangan," cetusnya.

Dalam keadaan penuh kabut, pesawat akan susah mendapatkan jarak pandang. "Ini kan bukan pesawat tempur yang bisa langsung bergerak," imbuhnya.

Menanggapi tingkat kecelakaan pesawat yang sering terjadi di sekitar Gunung Salak, Surono menjelaskan kemungkinan terjadi karena kabut yang menyelimuti udara sekitar Gunung Salak. Bahkan hasil pantauan saat hilangnya Sukhoi Superjet 100 pekan lalu, Gunung Salak berkode 03. Artinya, saat itu kondisi gunung sepenuhnya tertutup oleh kabut.

Surono juga mengatakan, gunung api yang menyimpan banyak air dan memiliki banyak tumbuhan berkontribusi membentuk uap air. Proses ini membentuk kabut. "Ini dipahami ada kabut," katanya.

Dia juga mengatakan bahwa angin maupun awan akan terkumpul saat menyentuh gunung. Kondisi ini semakin memperbanyak kabut yang ada di gunung. "Angin dan awan pasti mentok saat ada gunung," ujarnya.
(umi)