Beranda » Ibrah Dari Bangsa Terdahulu

Ibrah Dari Bangsa Terdahulu



“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal” (QS. Yusuf : 111).


Jangan Sekali-kali melupakan sejarah, demikian pesan Founding Father bangsa ini, Ir Soekarno. Mengambil pengalaman dari perjalanan bangsa, serta belajar dari perjalanan bangsa-bangsa yang pernah jaya dan juga musnah, merupakan salah satu cara mengisi dan menghayati kebangkitan nasional.



Terlepas dari kontroversi momentun apa seharusnya yang dijadikan sebagai pijakan kebangkitan nasional, apakah kelahiran organisasi Boedi Oetomo pada tanggal 20 Mei 1908, atau kelahiran Sjarikat Islam pada tanggal 16 Oktober 1905, peringatan hari kebangkitan nasional harus tetap menjadi refleksi dalam melihat sudah sejauh mana dan ke arah mana seharusnya bangsa ini melangkah.



Hampir 67 tahun usia bangsa ini, usia yang sesungguhnya tidak muda lagi. Kita seolah selalu terperosok ke dalam lobang yang sama dan terjebak dalam persoalan yang sama.




Lepas dari penjajahan bangsa asing setelah dicengkram 3,5 abad lamanya, kita masuk pada fase yang lebih menyedihkan, yaitu penjajahan oleh bangsa sendiri.



Setelah menyadari kesalahan dalam masa demokrasi terpimpin di bawah komando Soekarno, dengan gegap gempita rakyat menyambut fase baru yang disebut dengan Orde Baru, tapi nasib Orde Baru tidak jauh beda dengan Orde Lama, disanjung di awal, tapi akhirnya jatuh dalam keadaan dihujat.



Tak jauh beda dengan orde sebelumnya, reformasi yang diperjuangkan dengan harga yang tidak sedikit mulai menampakkan kelemahannya, demokrasi yang didewa-dewakan ternyata juga belum berhasil mengatasi persoalan bangsa.



Korupsi semakin meraja lela, jati diri bangsa semakin dilupakan.



Kegagalan demi kegagalan memberikan satu pelajaran yang sangat berarti, yaitu kebangkitan suatu bangsa sesungguhnya bermula dari perbaikan karakter bangsa tersebut (QS. Ar-Ra’du : 11).



Bangsa berkarakter unggul selalu maju dalam sejarah peradaban dunia, sebaliknya bangsa dengan ilmu pengetahuan maju sekalipun bisa hancur kalau karakter bangsanya sudah hancur. Dalam Surat al-Balad (bangsa-bangsa) Allah menyebutkan tiga bangsa yang maju, yaitu Kaum ‘Ad dengan bangunan pencakar langit, kaum Tsamud dengan seni pahat yang mengagumkan sehingga mereka bisa membuat patung dari gunung, kaum Fir’aun dengan bangunan Piramid yang sangat indah dan megah.




Bangsa-bangsa tersebut jaya tapi akhirnya hancur karena tidak berdiri di atas pondasi karakter yang kokoh.



Quraisy Shihab, ahli tafsir dan ulumul quran Indonesia, menjelaskan bahwa ada tujuh karakter unggul dari bangsa-bangsa yang maju yang pernah disinggung di dalam Alquran, yaitu : Pertama, Kemantapan Persatuan.



Belanda adalah negara kecil kalau diukur dengan luas wilayah Indonesia, akan tetapi berhasil menancapkan kukunya di Indonesia dalam jangka waktu yang sangat lama karena tidak adanya persatuan ketika itu.



Dalam Surat al-Anfal ayat 46 Allah SWT berfirman : “Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”.



Kedua, adanya nilai luhur yang disepakati. Indonesia adalah bangsa yang beragama dan memiliki budaya yang bernilai luhur.



Dari sekian banyak tata nilai yang diyakini, maka Pancasila boleh dikatakan nilai luhur yang disepakati oleh segenap bangsa Indonesia. Akan tetapi nilai-nilai itu seakan mulai luntur dalam kehidupan masyarakat Indonesia.




Ketiga, Kerja keras, disiplin dan penghargaan terhadap waktu. Kerja dalam Alquran diungkapkan dengan beberapa redaksi, seperti kata Amalun yang terulang sebanyak 260 kali, Fi’lun yang terulang sebanyak 99 kali, Shun’un yang terulang sebanyak 17 kali, Taqdimun yang terulang sebanyak 16 kali dan kata Sa’yun.



Sementara itu di beberapa tempat Allah bersumpah dengan waktu. Seperti antara lain bisa kita lihat dalam Surat Al-Ashr. Dalam surat ini Allah bersumpah; “Demi waktu (al-Ashr), sesungguhnya manusia berada dalam kerugian”. Kata Al-’ashr secara harfiah sebenarnya berarti “memeras sesuatu sehingga ditemukan hal yang paling tersembunyi padanya”.



Dalam surat ini tersirat makna bahwa manusia akan merugi kalau ia tidak memanfaatkan waktu yang ia miliki untuk memeras segala potensi yang ia miliki.



Keempat, Kepedulian yang tinggi. Dalam surat Ali Imran ayat 110 Allah menegaskan bahwa salah satu sebab keunggulan umat Nabi Muhammad SAW adalah kepedulian mereka untuk menegakkan amar ma’ruf nahi munkar.



Dalam salah satu hadisnya Rasulullah juga pernah mengatakan bahwa orang yang tidak memiliki kepedulian terhadap persoalan yang dihadapi kaum muslimin, berarti bukan termasuk golongan mereka.



Kelima, Moderasi dan Keterbukaan. Umat Islam dinamai Alquran dengan Ummatan Wasathan (Al-Baqarah : 143). Kata wasathan menurut sebagian pakar bermakna bahwa sesuatu yang baik itu berada pada posisi antara dua kutub ekstrem atau disebut juga dengan sikap moderat.




Moderasi harus diikuti dengan keterbukaan, karena salah satu ciri Ulul Albab (orang berakal) adalah mau mendengar dan memilih yang terbaik dari semua yang ia dengar (QS. Al-Zumar : 18).



Keenam, Kesediaan Berkorban. Pada saat inagurasinya sebagai Presiden AS, John F Kennedy membakar nasionalisme rakyat AS dengan pidatonya yang terkenal : “Jangan tanyakan apa yang bisa diberikan negara kepadamu, tapi tanyakan apa yang bisa kamu berikan kepada negara”.



Berkorban untuk bangsa juga merupakan implementasi hadis nabi “Cinta tanah air adalah bagian dari iman”.



Ketujuh, Ketegaran dan Keteguhan Terhadap Rayuan dan Tantangan. Dalam Surat An-Nahl: 92, Allah SWT mengecam suatu kaum yang sudah berkomitmen akan tetapi melanggar komitmennya karena adanya tantangan dari pihak lain.



Berkomitmen dan menepati janji (komitmen) merupakan sendi utama tegaknya masyarakat, sehingga menjadi karakter terpuji bagi seseorang dan suatu komunitas.***

Syamsuatir Penulis adalah Pegawai Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kampar dan Dosen pada Fakultas Syari’ah dan Ilmu Hukum UIN Suska Riau.