Beranda » Ikhwanul Muslimin Dari Masa Ke Masa

Ikhwanul Muslimin Dari Masa Ke Masa



Kita mengenal Hasan Al Banna seorang insyinyur jebolan Cairo University (saat itu masih bernama King Farouk University) yang pada tahun 1928 menjadi koordinator gerakan Ikhwanul Muslimin (IM) dengan tujuan mengembalikan eksistensi khilafah dari kekuatan politik kenegaraan menjadi kekuatan sosial dan juga politik. Pendirian tersebut bukan tanpa dasar dan latar belakang, akan tetapi berdirinya IM oleh Dr. Yusuf Al Qardlawi (Tarbiyah Islamiyah wa Madrasah Hasan Al Banna) seperti hujan di musim paceklik yang memberikan nuansa baru dalam pergerakan umat Islam saat itu. Tujuan pembentukan IM tidak lain karena IM melihat perpecahan umat Islam dan mengakarnya pengaruh imperialisme penjajahan.

Maka, slogan Ibda’ binafsik (mulai dari diri sendiri) kemudian Usroh (Keluarga) kemudian Mujtama’ (Masyarakat) kemudian Daulah (Negara) kemudian Khilafah saat itu diharapkan dapat mengembalikan kejayaan umat Islam. Istilah-istilah dalam IM pun banyak yang mengambil dari istilah-istilah tarekat sufi seperti Ikhwan, Akhwat, Liqo, Murabbi, Mursyid, Akhi, Al Akh, dsb. Istilah-istilah tersebut sebenarnya sudah ratusan tahun dipakai oleh berbagai tarekat sufi akan tetapi menjadi populer karena dipakai oleh IM.

Saat itu, IM diharapkan dapat menempatkan Raja Farouk untuk menjadi Khalifah akan tetapi ternyata IM memiliki paham bentuk pemerintahan sendiri yang mengedepankan Syuro (lebih dekat ke demokrasi) dari pada bentuk kerajaan yang kekuasaan raja sangat absolute bagai raja. Maka tidak heran IM menjadi gerakan yang tidak disukai oleh kerajaan saat itu dan mendapatkan tekanan walaupun memiliki pengaruh di perpolitikan (parlemen).

Pada masa revolusi republik, beberapa perwira militer seperti Anwar Sadat sering mengunjungi IM untuk meminta dukungan sehingga para perwira revolusi mendapatkan dukungan untuk menggulingkan sistem kerajaan menjadi republik. Maka tidak heran jika pada masa Anwar Sadat 1970an berkuasa, IM lebih memiliki keluasan bergerak.

Tidak disangka, pada tahun 1970an menurut dua Mantan Wakil Mursyid IM Aboul Fotouh dan Muhammad Habib yang diamini oleh sejumlah ulama antara lain Dr. Abdul Halim Uwais, Dr. Yusuf Qardlawi, Dr. Abdurrahim As Saih mengakui arus gerakan Salafi dan Wahabi dari Arab Saudi sangat gencar dengan membagikan buku-buku segara gratis dan mengajarkannya di masjid-masjid yang menjadi tempat pengajian dan pengkaderan IM. Saat itulah IM terwarnai dengan paham Salafi dan Wahabi yang dibawa oleh para sekitar 40.000 pemuda Mesir yang menjalani program shout course di Arab Saudi.

Paham tersebut sangat merusak tubuh dan pola pikir IM sehingga banyak keluar dan mengakui bahwa IM tidak lagi sesuai dengan tujuan dan paradigma awalnya. Watak keras IM tersebut semakin bertambah karena tekanan rezim Mubarak sejak 1980an sehingga IM menjadi semakin keras.

Pasca revolusi 2011, IM melalui partainya Freedom and Justice Party (Al Horriyah wal Al ‘Adalah) memenangkan 47 persen kursi parlemen dan mendudukkan Dr. Saad El Katatni yang seorang pengusaha menjadi ketua parlemen. Saat-saat pra dan pasca pemilu, jika buku tamu kantor Mursyid IM dilihat, justru yang paling sering mengunjungi IM adalah Dubes AS untuk Mesir Anna Peterson.

Perlu digaris bawahi, bahwa aktifis IM kebanyakan adalah lulusan keilmuan di luar bidang keagamaan seperti sastra, hukum, keuangan, manejemen, pertanian, teknik, sejarah, kedokteran (paling banyak), peternakan dsb. Bahkan capres FJP (IM) Dr. Muhammad Morsi adalah insinyur yang pernah bekerja di NASA (badan antariksa Amerika Serikat) serta menjadi asisten dosen di California University (dapat dicek di selebaran kampanye).

Pasca revolusi diakui atau tidak, IM berusaha keluar dari mainstream 1928 karena melihat medan perjuangan pasca 2012 yang sudah berbeda. Mursyid Aam IM Dr. Muhammad Badi’ yang dosen peternakan mengajak Hamas Palestian untuk meninggalkan jalur militer dan menekuni jalur politik dalam perjuangannya.

Perlu ditekankan juga, aktifis IM kebanyakan adalah orang mapan yang bekerja sebagai dokter, insinyur, dosen, pengacara dan bahkan pengusaha seperti bakal calon perdana menteri dari IM Khairat El Syathir. Maka tidak heran jika dalam berpolitik aktifis IM sekarang lebih tenang, tidak emosional, tidak terlalu fanatik, tidak mengkafirkan lawannya lagi (seperti tahun 1960an dan sebelum revolusi).

Bahkan sekarang ini, pengurus IM sudah mulai mencoba keluar dari mainstream cara berfikir Hasan Al Banna dan sastrawan Sayid Qutb serta menerima masukan dari berbagai kalangan. IM merupakan organisasi terbuka dengan spirit perjuangan untuk melakukan perubahan menuju perbaikan sesuai perkembangan zaman dengan semboyan Ibda’ (mulai lah) yang menjadi nama ikatan pengusaha IM, EBDA (Egyptian Business Development Association).


Koran Al Horiyah wa Al ‘Adalah
Muqoddas