Beranda » Israel Bangun Negara Jajahan Baru di Yunani

Israel Bangun Negara Jajahan Baru di Yunani



Foto: Reuters

NIKOSIA - Israel dikabarkan tengah mempersiapkan jajahan terbaru mereka di Siprus Yunani. Hal ini berdasarkan rencana pengiriman terminal gas di negara yang masih memiliki kedekatan dengan Yunai dan Siprus tersebut.


Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dikabarkan tengah meminta izin pengerahan 20 ribu pasukan komando ke Siprus Yunani. Sebagai gantinya, pasukan itu akan membangun terminal gas di Negara Pulau itu.


Laporan ini sepertinya membuat panas pihak Turki, karena pada dasarnya pulau itu dibagi kekuasaannya antara Siprus dengan Turki. Kantor Berita Turki Anatolia melaporkan, Netanyahu melakukan pertemuan dengan pemimpin Siprus Yunani Dimitris Christofias pada 16 Februari lalu.


Diyakini pertemuan keduanya terkait dengan permintaan Siprus Yunani kepada Israel, yakni untuk membuat terminal gas. Sebagai ganti, Siprus Yunani harus mengizinkan Israel membangun pangkalan udara dan laut di negara tersebut.


"Berikan kami pangkalan udara dan laut dan kami akan cepat melarang investasi di wilayah pulau yang dikuasai Turki. Hal ini tentunya akan didukung oleh keputusan dari Parlemen Israel," ujar Netanyahu, seperti dikutip Anatolia, Senin (21/5/2012).


Siprus Yunani, yang saat ini menghadapi kesulitan akibat krisis ekonomi global, tidak mampu mengeluarkan dana USD10 miliar atau sekira Rp93,6 triliun (Rp9.365 per USD), untuk membangun terminal gas.


Israel pun menawarkan diri, tetapi meminta pekerja konstruksi berasal dari Israel dan dengan jumlah 10 ribu jiwa. Ini berarti, sekira 30 ribu warga Israel akan tinggal di pulau tersebut bila rencana ini berhasil dilakukan.


Sekira 20ribu dari warga Israel itu adalah pasukan Komando Israel yang akan melindungi warga dan terminal gas yang baru dibangun. Tetapi Anataloia menambahkan, Israel bermaksud untuk membangun "little Israel" atau Israel Kecil di negara itu.


"Israel tidak akan meninggalkan negara itu setelah pekerjaannya selesai. Mereka berniat untuk tinggal selamanya," tutup kantor berita Anatolia. (*/okez)