Beranda » Ketika Kaum Anshar Gelisah

Ketika Kaum Anshar Gelisah



“Demi Allah! Rasulullah telah mendahulukan kaumnya sendiri!”, ujar salah seorang dari kalangan Anshar.

Kali ini, orang-orang dari kalangan Anshar tampak gelisah. Mereka baru saja memenangkan peperangan di Hunain dan pengepungan di Thaif. Ada banyak harta rampasan yang mereka peroleh. Sangat banyak. Dengan hasil ini, mereka berharap akan mendapatkan bagian yang cukup besar pula.

Tapi, Rasulullah Saw justru mendahulukan orang-orang dari kalangan Quraisy dan kabilah-kabilah Arab. Bayangkan saja, Abu Sufyan bin Harb yang baru saja masuk Islam, mendapatkan 100 ekor unta dan 40 uqiyah emas. Anaknya, Muawiyah bin Abu Sufyan, juga mendapatkan jatah yang sama.

Belum lagi Hakim bin Hizam diberi 200 ekor unta, Shafwan bin Umayah diberi 300 ekor unta, dan pemuka Quraisy lainnya yang diberi bagian yang banyak. Inilah yang membuat orang-orang dari kalangan Anshar merasa kecewa. Mereka seperti tidak menerima keputusan Rasulullah Saw.

***

“Wahai Rasulullah. Dalam diri orang-orang Anshar ada perasaan mengganjal terhadap dirimu. Dari harta rampasan itu, engkau memberi bagian yang besar kepada kaummu sendiri sedangkan orang-orang Anshar tidak mendapat bagian sedikitpun”, ujar Sa’ad bin Ubadah, pemimpin kaun Anshar.

Rasulullah Saw terdiam.

“Lalu dimana engkau menempatkan dirimu, Sa’ad?”, tanya Rasulullah kemudian.

“Aku tidak punya pilihan lain selain bersama kaumku, wahai Rasulullah”, jawab Sa’ad getir.

“Baiklah. Kalau begitu kumpulkan kaummu di sebuah tempat”, ujar Rasulullah.

***

“Wahai orang-orang Anshar!”, ujar Rasulullah dengan nada tinggi.

Semua orang yang hadir di situ terdiam. Mereka semua adalah orang-orang dari kalangan Anshar.

“Aku mendengar bahwa ada perasaan yang mengganjal dari kalian terhadapku. Bukankah ketika aku datang, sementara kalian dalam kesesatan lalu Allah memberi petunjuk? Bukankah dulu kalian miskin, lalu Allah membuat kalian kaya dan menyatukan hati kalian?”, sambung Rasulullah.

“Ya, begitulah Allah dan Rasul-Nya. Lebih murah hati dan lebih banyak karunia-Nya”, jawab seseorang dari kerumunan.

“Lalu, apa kalian tidak memenuhi seruanku?”, tanya Rasulullah lagi.

“Dengan apa kami harus memenuhi seruanmu, wahai Rasulullah? Milik Allah dan Rasul-Nya lah segala anugerah dan karunia”, jawab orang-orang Anshar.

Sesaat suasan hening.

“Demi Allah. Kalian tentu bisa berkata kepadaku. Engkau datang kepada kami dalam keadaan didustakan, namun kami membenarkan engkau. Engkau datang kepada kami dalam keadaan lemah, namun kami menolong engkau. Engkau datang dalam keadaan terusir, namun kami yang memberikan tempat berlindung”, ujar Rasulullah dengan suara bergetar.

Semua yang hadir tertunduk malu.

“Apakah dalam hati kalian masih terbesit harta keduniaan? Padahal dengan harta itu aku hendak mengambil hati segolongan orang agar masuk Islam, sedangkan terhadap ke-Islam-an kalian aku sudah sangat percaya?”, sambung Rasulullah.

Hening. Semuanya terdiam. Perlahan terdengar suara isakan tangis.

“Wahai orang-orang Anshar! Apakah kalian tidak berkenan jika orang lain pergi membawa unta sedangkan kalian kembali ke tempat kalian membawa Rasul-Nya?”, tambah Rasulullah dengan tegas.

“Demi jiwaku yang ada di tangan-Nya. Kalau bukan karena hijrah, tentu aku termasuk orang-orang Anshar! Jika orang-orang menempuh suatu celah gunung dan orang-orang Anshar memilih celah yang lain, tentu aku akan memilih celah yang ditempuh orang-orang Anshar! Ya Allah, rahmatilah orang-orang Anshar, anak-anak mereka, dan cucu-cucu mereka!”, ujar Rasulullah.

Semua yang hadir di situ menangis sesenggukan. Mereka merasa menyesal telah mengeluhkan tentang pembagian harta rampasan perang.

“Wahai Rasulullah! Kami ridha terhadapmu dalam masalah pembagian ini”, ujar salah seorang dari kalangan Anshar.

***

Orang-orang dari kalangan Anshar itu pun bubar meninggalkan tempat. Mereka merasa puas mendengarkan penjelasan dari Rasulullah Saw. Mereka ikhlas terhadap keputusan Allah dan Rasul-Nya.

Salam sejahtera dan semoga keselamatan dilimpahkan Allah kepada kalian, wahai orang-orang Anshar!

Andri Saleh