Beranda » Mengungkap Jejak-Jejak Kehidupan Manusia di Kawasan Karts Pawon

Mengungkap Jejak-Jejak Kehidupan Manusia di Kawasan Karts Pawon



(Balai Arkeologi Bandung)



Kawasan Karst Pawon secara administratif termasuk di wilayah Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung. Dalam dunia arkeologi, kawasan karst pawon menjadi perhatian sejak ditemukannya jejak-jejak kehidupan manusia di Gua Pawon. Selama ini perhatian terhadap kawasan karst pawon baru sebatas pada temuan rangka manusia di Gua Pawon. Dengan ditemukannya bukti kehadiran manusia tersebut memunculkan pertanyaan sejauh mana kawasan jelajah Manusia Pawon dalam memenuhi kehidupannya. Berdasarkan pengamatan terhadap kawasan karst pawon diketahui bahwa di kawasan itu terdapat beberapa tinggalan arkeologis yang merupakan jejak-jejak kehidupan manusia beserta budayanya yang berlangsung pada masa lampau. Tinggalan arkeologis tersebut berasal dari berbagai masa sejak zaman prasejarah hingga sekitar abad XVII.


Penelitian arkeologis yang dilakukan Balai Arkeologi Bandung yang kemudian juga melakukan kerjasama dengan Balai Pengelolaan Kepurbakalaan, Kesejarahan dan Nilai Tradisional, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat telah berhasil mengungkap keberadaan Manusia Pawon. Ekskavasi yang pernah dilakukan mendapatkan gambaran bahwa Gua Pawon di masa lalu pernah digunakan sebagai tempat hunian dan penguburan. Bentuk hunian yang pernah berlangsung merupakan hunian tertutup yang memanfaatkan gua sebagai tempat bermukim. Berdasarkan bentuk tengkorak yang ditemukan, dapat diketahui bahwa Manusia Pawon berasal dari kelompok ras mongoloid.

Berdasarkan hasil analisis C-14 menunjukkan umur Manusia Pawon antara 5660±170 BP sampai 9520±200 BP.

Di sekitar Gua Pawon, jejak-jejak kehidupan manusia ditemukan di puncak Pasir Pawon dan di lembah sekitar aliran Cibukur. Di puncak Pasir Pawon, di mana terdapat stone garden dapat dijumpai sebaran artefak berupa fragmen tembikar dan keramik. Selain itu juga terdapat beberapa batuan beku yang kemungkinan merupakan sisa unsur bangunan. Fragmen tembikar yang ditemukan ada yang menunjukkan pada tingkat teknologi sederhana ada pula yang sudah agak maju. Tembikar dengan teknologi sederhana merupakan ciri teknologi masa prasejarah.Fragmen tembikar yang menunjukkan berasal dari tingkat teknologi lebih maju mempunyai ciri yang sama dengan tembikar Buni yang berkembang di daerah pantai Karawang hingga Pamanukan.


Diperkirakan tembikar Buni berkembang sejak abad ke-2 SM hingga pada masa Kerajaan Sunda dan awal Islam (Abad ke-17). Fragmen keramik yang ditemukan berasal dari Cina. Keramik tertua dari zaman dinasti T’ang (abad VII – X). Secara tipologis, keramik ini berasal dari bentuk guci. Keramik yang lebih muda lagi dari zaman dinasti Song (abad X – XIII). berglasir warna hijau seladon, berasal dari bentuk mangkuk. Keramik dari zaman dinasti Yuan (abad XIII – XIV) juga ditemukan di puncak Pasir Pawon. Keramik ini pada bagian dalam berglasir warna abu-abu. Secara tipologis berasal dari bentuk mangkuk tanpa kaki.


Beberapa batuan beku yang ditemukan di puncak Pasir Pawon, sekarang dalam kondisi tersebar. Salah satu batu berbentuk bulat panjang. Berdasarkan bentuknya mungkin merupakan bekas struktur bangunan berundak yang lazim berkembang pada masyarakat pendukung tradisi megalitik. Bangunan tersebut merupakan sarana dalam ritual pengagungan arwah nenek moyang. Batu berbentuk bulat panjang mungkin merupakan menhir. Di sebelah utara Gunung Masigit berjarak sekitar 40 m terdapat aliran sungai Cibukur. Di sungai tersebut telah ditemukan alat batu berupa kapak perimbas monofacial dari bahan batu gamping. Alat batu semacam ini termasuk dalam kategori paleolitik yang digunakan oleh manusia prasejarah. Selain tinggalan arkeologis, pada masyarakat di sekitar kawasan karst pawon terdapat tradisi yang menempatkan Pasir Pawon sebagai wilayah yang sakral. Pasir Pawon dipercaya sebagai lokasi petilasan para karuhun. Beberapa nama yang diketahui adalah Rama Agung, Embah Kalapa, Eyang Haji Putih Jagareksa, Krincing Wesi, Centring Manik, Manik Maya, Embah Purbakawasa, Embah Gatot Jalasutra, dan Embah Basar. Petilasan tersebut ada yang di dalam Gua Pawon, di puncak pasir, dan di pinggir persawahan sebelah utara Gunung Masigit. Di puncak Pasir Pawon terdapat “makam” yang dibangun oleh seseorang yang kesampaian keinginannya. Lokasi tersebut sebenarnya bukan makam tetapi petilasan Embah Purbakawasa. Di dalam Gua Pawon, pada salah satu ruangan merupakan petilasan para karuhun. Di pinggir persawahan sebelah utara Gunung Masigit terdapat “makam” yang sebenarnya adalah petilasan Embah Basar. Tokoh ini dipercaya sebagai kepercayaan Sunan Gunungjati dari Cirebon untuk menyebarkan agama Islam di kampung itu. Embah Basar merupakan tokoh asli setempat. Disampaikan dalam Workshop Integrasi Aspek Kegeologian Dalam Pembangunan Daerah (Distamben Jabar – 8 Maret 2006) Sumber: http://www.distamben-jabar.go.id Jumat, 10 Maret 2006.


(Catetan: Ieu makalah dikorowt tina http://dieny.wordpress.com/2007/02/24/mengungkap-jejak-jejak-kehidupan-manusia-di-kawasan-karts-pawon/. Saptu, 14 April 2012, jam 18.36)


http://citizenmagz.com/?p=242


Wisata Arkeologis Gua Pawon



Karya pilihan dari tugas mata kuliah produksi jurnalisme televisi. Feature televisi ini bercerita tentang Gua Pawon, situs arkeologis yang juga menjadi tempat wisata.



Tim Produksi: Abdalah Gifar(Produser); R.Lasmi Teja Raspati(Scriptwriter); Gamavianur(Announcer); Martin(Editor); Lalitya Hayuningtyas, Lingga Murni Andarini (Reporter)


Gua Pawon - Padalarang, Indonesia


Pintu Gua Pawon dari arah dalam guar


Gua Pawon teletak di Gunung Masigit, tepatnya di kawasan kars Citatah, Padalarang, Jawa Barat. Kawasan Gua Pawon adalah situs purbakala peninggalan jaman prasejarah yang kini keberadaannya semakin mengkhawatirkan. Di sinilah, konon sekelompok manusia pertama di Jawa Barat tinggal. Baru-baru ini Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata telah mengusulkan Gua Pawon di Padalarang ke UNESCO agar menjadi salah satu cagar alam warisan dunia.


Video ini memperlihatkan dan memperkenalkan lokasi Gua Pawon kepada para penontonnya.

Rifan Sahrony and Maman Gantra in Pustaka Sunda