Beranda » Pemimpin ala Umar Ibn Khattab dengan Eksistensi FPI

Pemimpin ala Umar Ibn Khattab dengan Eksistensi FPI



Mengambil beberapa atsar shahabat yang empat (khulafaur rasyidin) tentang bagaimana Islam sesungguhnya sesuatu yang sangat inspiratif dan tetap faktual dimasa sekarang. Lagi pula sebagai muslim adalah keharusan bagi kita mengambil ibrah (pelajaran) dari dalam ketimbang mengambil hikmah dari tetangga sebelah karena sesungguhnya telah dicukupkan Islam sebagai agama (dalam hal ini pemaknaannya adalah sebuah norma hidup, asas berkehidupan, system atau nilai dan tentu saja sebagai sebuah keyakinan) telah di ridhoi oleh Tuhan Yang Maha Esa.


Ada beberapa postingan dari para kompasianers mengenai shahabat Umar Ibn Khattab RA (Abu Hafsin/Bapaknya Singa) silahkan dibaca pada Hadits Arbain pada hadits pertama. Kunyah (nama panggilan) tersebut tidak serta merta diberikan kepada beliau jika tidak ada ujung pangkalnya. Sebagai pemimpin, beliau terkenal tegas dan garang dalam menghadapi kemungkaran, sebagaimana beliau ta’at terhadap aturan yang dikeluarkan oleh Islam sebagai keyakinannya. Bagaimana beliau memuntahkan sisa khamar dimulutnya tatkala mendengar larangan meminum khamar. Petikan atsar/kisah shahabat yang dijadikan sebagai prolog sebuah postingan hakikatnya menjadikan kita melakukan instropeksi dan telaah terhadap kisah tersebut apa yang menjadi landasan nilai untuk kita umat yang terpisahkan ribuan tahun.


Untuk role model sebuah sistim kepemimpinan beliau adalah yang top markotop menurut pendapat saya pribadi, karena Indonesia butuh pemimpin yang seperti ini. Tegas, lugas, gahar dan tidak main-main. Pertanyaan mendasar adalah, jika NKRI mempunyai khalifah atau presiden seperti Umar Ibn Khattab RA apakah masih diperlukan ormas-ormas garis keras untuk menghilangkan hal munkar? Sederhana bukan pertanyaannya? Apakah kita menunggu dengan santun aparat untuk mengatasi hal tersebut?



Keras dan mungkar sangat jauh berbeda, FPI memang keras malah cenderung akhir-akhir ini mulai melunak ketika ada beberapa alim ulama melakukan hikmah syuro dan muzzakaroh dengan mundhirnya yakni Habib Rizieq Shihab. Kelembutan belum tentu tidak munkar seperti halnya Irshad Manji…melakukan bedah buku dan kajian keilmuan dengan kemasan elegan padahal sesungguhnya munkar wal bathil!!! Saya setuju dan sangat apresiatif tatkala ada beberapa ikhwan di kompasiana mengajukan kisah-kisah inspiratif ketimbang tulisan para liberalis dan sekularis sialan tersebut, apalagi ada yang dari luar Islam ikut meramaikan dengan pendekatan pluralism, mana mungkin kita mendudukkan perihal ketika referensi nilai hidup kita berbeda?


Jadi, silahkan para kompasianers mengutip sebanyak mungkin kisah-kisah inspiratif di banyak kanal apabila hal itu bisa menjadi inspirasi bagi kaum muslim ketimbang dicekokin kalimat-kalimat absurd nan kamuflase belaka seperti sebuah postingan yang menyatakan Arab Saudi Negara barbar karena melakukan hudud (baca note dibawah sebagai maraji ) yang notabene adalah perintah dari Tuhan? Seorang penyair (katanya) dengan lancang dan tendensius menyerang hal-hal pembeda Islam dengan agama lain. Barangkali beliau yang penyair ini perlu menyisihkan waktunya untuk mencari data yang lebih banyak agar tahu seberapa banyak manusia di Negara tersebut yang sudah menjalani konsekwensi dari penerapannya. Kenapa pula dia tidak berlega hati untuk menyampaikan kepada kita para kompasianers mengenai jumlah terdakwa yang sudah menjalani eksekusi mati di USA yang notabene Negara paling (katanya) demokratis seantero dunia yang kecil ini. Negeri rujukan para cendekia duniawi. Negeri berkumpulnya para hedonis, negeri dimana pemimpinnya memberikan perijinan bagi pernikahan sesama jenis sehingga populasi penduduk barangkali bisa ditekan dan dikelola melalui lembaga perkawinan. Saya pribadi tidak begitu juga yakin penerapan syariat Islam dapat berlaku dalam tempo yang singkat ( 20 tahun kedepan) akan tetapi sebagai muslim saya berkewajiban untuk mensyiarkan hal ini. Pan Islami adalah keniscayaan layaknya Pan Kristiani yang masih tetap eksis hingga sekarang. Sebagai muslim adalah kewajiban menjaga izzah Islam bukan membela Allah Ta’ala. Dzat Maha Agung yang Khalik , Mulk, Aziz, Jalal, Robbul ‘Alamin dan Dzat Tunggal yang tidak butuh doa-doa kita dan tidak memerlukan pembelaan kita. Akan tetap membela agama adalah keniscayaan bagi seluruh muslim. Wallahu ‘alam bishowab


Note:


“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Qs. al-Maidah/5:38)


“Dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.” (Qs. an-Nur/24:2)


“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata dan disekeliling beliau ada sekelompok sahabatnya, “Berjanji setialah kamu kepadaku, untuk tidak akan mempersekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak membunuh anak-anak kamu dan tidak berbuat dusta sama sekali serta tidak bermaksiat dalam hal yang ma’ruf. Siapa di antara kamu yang menepati janjinya, niscaya Allah akan memberikannya pahala. Tetapi siapa saja yang melanggar sesuatu darinya, lalu diberi hukuman didunia maka hukuman itu adalah sebagai kafarah (penghapus dosanya), dan barangsiapa yang melanggar sesuatu darinya lalu ditutupi olah Allah kesalahannya (tidak dihukum), maka terserah kepada Allah; Kalau Dia menghendaki diampuni-Nya kesalahan orang itu dan kalau Dia menghendaki disiksa-Nya.” (Muttafaqun ’alaih: Fathul Bari I/ 64 no: 18, Muslim 3/1333 no: 1709 dan Nasa’i 7/148)


Imam Prasetyo