Beranda » Pengertian Tentang Dalil Isra’ Mi’rajnya Rasulullah

Pengertian Tentang Dalil Isra’ Mi’rajnya Rasulullah



Surat Al-Israa’ 1


سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ (1)



Allah SWT menyatakan ke Maha Sucian Asma Nya dengan firman Nya “Subhana”, agar manusia mengakui dengan ketulusanhati atas kesucian-NYA dari sifat-sifat yang tidak layak dan meyakini sifat-sifat ke Agungan NYA yang tiada taranya dan sebagai pernyataan pula tentang sifat-sifat yang kebesaran NYA telah memperjalankan hamba-NYApada waktu malam, dengan perjalanan yang sangat cepat melebihi kilat.


Dari kata-kata Isra’ (di jalankan) dapat dipahami bahwa Isra’ Nabi Muhammad saw itu terjadi atas kehendak alloh SWT di waktu malam hari ini menunjukkan pada kehendak alloh untuk hamba-hamba yang di pilihnya ddengan memberikan hidayah khusus dan ini berlaku bukan untukRasulullah semata namu untuk seluruh ummat pengikut Nabi muhammad SAW , karena memang demikian kata “asra” dalam bahasa Arab : di jalankan yang berarti ketidak kuasaan Rasulullah dalam menjalankan semua titah mengemban amanat alloh hanya dengan bimbingan alloh semata,


Malam memiliki keheningan, malam menyibakkan kegelapan, yang merupakan arah dari pandangan mata yang tidak pernah akan berujung. Dan perjalanan Isra’ wal Mi’raj adalah perjalanan Rasulullah SAW yang tidak mampu dijejaki ujung finalnya. Alam semesta nan luas …


Surat Al-Israa’ 15

مَنِ اهْتَدَى فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ وَمَنْ ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولًا (15)


(Barang siapa berbuat sesuai dengan hidayah Allah, maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk keselamatan dirinya) karena pahala hidayahnya itu dia sendirilah yang memetiknya (dan barang siapa yang sesat, maka sesungguhnya dia tersesat bagi kerugian dirinya sendiri) karena sesungguhnya dia sendirilah yang menanggung dosa sesatnya itu. (Dan tidak dapat menanggung) seseorang (yang berdosa) pelaku dosa; artinya ia tidak dapat menanggung (dosa) orang (lain, dan Kami tidak akan mengadzab) seorang pun (sebelum Kami mengutus seorang Rasul) yang menjelaskan kepadanya apa yang seharusnya ia lakukan.


Sedang disebutkan “Lailan”, yang berarti di malam hari,” adalah untuk menguatkan pengertian bahwa peristiwa Isra’ itu memang benar-benar terjadi di malam hari. Allah SWT mengisra’ kan hamba Nya di waktu malam hari, karena waktu itulah yang paling utama bagi para hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah, dan waktu yang sebaik-baiknya untuk beribadat kepada-Nya.

Dimaksud dengan “hamba NYA” di dalam ayat ini ialah Nabi Muhammad saw yang telah terpilih sebagai Nabi yang terakhir dan telah mendapat perintah untuk melakukan perjalanan malam, yang semata-mata karena perintah Allah SWT …


Allah berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ سَمِيعٌ عَلِيمُُ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului kuasa & kehendak Allah dan Rasul-Nya dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Hujuraat: 1)


Masjidil Haram-Masjidil Aqsha = Dua starting point yang diberkahi. Dua lokasi yang dipilih Alloh dengan titik koordinat yang terpisah antara batas utara pergerakan tahunan Matahari. Dua lokasi sebagai kiblat pertama dan terakhir. Dan inilah tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran-Nya. Kalau kita mau berfikir



Perjalanan yang ditempuh dari pecinta menuju yang dicintainya, hingga keadaan ini berada dalam vakum penyatuan. Cerminan penyatuan itu tertuang dalam sebuah hadits qudsi: “Tidak henti-hentinya hamba-hamba-Ku mendekatkan diri kepada–Ku dengan melakukan ibadah-ibadah nawafil, hingga Aku mencintainya. Kalau Aku telah mencintainya, Aku akan menjadi telinganya yang dengannya ia mendengar; Aku akan menjadi matanya yang dengannya ia melihat; Aku akan menjadi tangannya yang dengannya ia memegang; Aku akan menjadi kakinya yang dengannya ia berjalan. Jika ia bermohon kepada-Ku, Aku akan mengabulkan permohonannya. Jika ia berlindung kepada-Ku, Aku akan melindungi dirinya” (HR. Bukhari)



Hadis riwayat Bukhari dari Sa’sa’ah:



إذا أتاني أت فقد فاستخرج قلبي، ثم أتيت بطشت من ذهب مملوءة إيمانا، فغسل قلبي ثم حشي (أعيد)

Artinya:

Bahwa Nabi saw bersabda : “Datang kepadaku seseorang (Jibril). Kemudian ia mengeluarkan hatiku. Setelah itu dibawalah kepadaku piala yang terbuat dari emas yang penuh dengan iman, lalu ia mencuci hatiku. Setelah itu menuangkan isi piala itu kepadaku. Kemudian hatiku dikembalikannya seperti sediakala.” (H.R. Bukhari dari Sa’sa’ah).

Ketiga: Hadis riwayat Ahmad dari Anas bin Malik:



إن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: أتيت بالبراق وهو دابة أبيض فوق الحمار ودون البغال يضع حافره عند منتهى طرفه فركبته فسار بي حتى أتيت بيت المقدس فربطت الدابة بالحلقة التي يربط فيها الأنبياء ثم دخلت فصليت فيه ركعتين ثم خرجت فأتاني جبريل بإناء من خمر وإناء من لبن فاخترت اللبن فقال جبريل أصبت الفطرة

Artinya:

“Bahwa Rasulullah saw bersabda : “Didatangkan kepadaku Buraq, yaitu binatang putih lebih besar dari keledai yang lebih kecil dari bagal. Ia melangkahkan kakinya sejauh pandangan mata. Kemudian saya mengendarainya, lalu ia membawaku sehingga sampai di Baitulmakdis. Kemudian saya mengikatnya pada tempat para nabi mengikatkan kendaraannya. Kemudian saya salat dua rakaat di dalamnya, lalu saya keluar. Kemudian Jibril membawa kepadaku sebuah piala yang berisi minuman keras (khamar) dan sebuah lagi berisi susu; lalu saya pilih yang berisi susu, lantas Jibril berkata : “Engkau telah memilih fitrah sebagai pilihan yang benar”. (H.R. Ahmad dari Anas bin Malik)



M.Ali Al bais