Beranda » Perintah Shalat

Perintah Shalat



Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Sebentar lagi tanggal 27 Rajab, sedikit mengulas Isra Miraj yuk…

Dalam perjuangannya menyebarkan Islam, Rasulullah Saw. mengalami berbagai penderitaan. Bukan saja penolakan terhadap ajakan nabi, namun juga melakukan gangguan secara pisik dan psykologis, bahkan melakukan percobaan pembunuhan.

Puncak penderitaan nabi berlangsung pada tahun ke -10 kenabian. Pada masa itu, kaum muslim diboikot oleh suku quraisy. Kelaparan melanda kaum muslimin sampai-sampai sepatu kulit menjadi salah satu pengisi perut. Di tengah-tengah penderitaan boikot, paman nabi, Abi Thalib meninggal dunia. Paman yang selama ini melindungi dan menyayanginya meninggalkan nabi selama-lamanya. Kesedihan makin bertambah dengan meninggalnya Siti Khodijah, istri yang selalu mendukung perjuangannya.Tak terbayangkan kesedihan Nabi pada masa itu, Istri yang selalu mendampingi dalam kesenangan dan penderitaan. Istri yang mengihklaskan semua hartanya untuk digunakan dalam perjuangan, telah tiada meninggalkan beliau.



Alloh Yang maha Pengasih kepada hamba-Nya, tidak membiarkan nabi berlarut-larut dalam kesedihan. Alloh mengibur nabi dengan berwisata melalui isra mi’raj. Isra memperjalankan nabi pada waktu malam dari masjidil haram ke masjdilil aqsa dan dilanjutkan dengan mi’raj, Nabi bertemu langsung dengan Dzat yang menciptakan seluruh semesta alam termasuk diri rasul. Dalam perjalanan, diperlihatkan kepada nabi, keadaan di neraka dan di surga. Banyak dari ummatnya masuk neraka dan tak seidikt yang beriman dari ummatnya masuk surga. Alloh swt. telah menyediakan pilihan kepada manusia untuk bertaqwa atau ingkar kepada-Nya.


Oleh-oleh dari berwisata tersebut adalah perintah sholat lima waktu. Sebenarnya perintah pertama shalat adalah 50 waktu, namun atas pertimbangan Nabi Musa yang bertemu ketika turun dari langit, maka meminta kepada Allah untuk dikurangi jumlahnya. (Gimana ya kalo kejadiannya tidak demikian, 50 waktu? 5 waktu banyak yang meninggalkan). Setelah melaksanakan shalat subuh di masjidil aqsa beliau kembali ke kota mekah.


Paginya beliau mengumpulkan suku quraisy lalu beliau menceritakan pengalamannya semalam. Pada saat itu perjalanan dari kota mekah ke palestina ditempuh 40 hari memakai onta. Serta merta orang-orang quraisy mencibirnya dan tak sedikit yang menyebut gila terhadap nabi, saking tak percayanya, kecuali orang-orang yang beriman. Salah satu orang yang mempercayai cerita rasul adalah Abu Bakar, sahabat nabi.


Alangkah beratnya nabi dalam berdakwah, mengutarakan sesuatu yang tak masuk akal dan hanya bisa diterima oleh iman. Bukannya bertambah pengikut nabi namun malah bertambah-tambah ketidakpercayaannya kepada nabi.


Untunglah Alloh memerintahkan nabi untuk berhijrah, mempertimbangkan pembangkangan suku quraisy yang semakin menjadi-jadi. Hijrah ini menjadi awal perkembangan yang menuju kemenangan islam di kemuadian hari.


Dari kisah di atas saya hanya ingin berkaca diri untuk diri kita semua, perintah shalat disampaikan secara langsung oleh Alloh kepada Rasulullah, ini mengisyaratkan betapa pentingnya ibadah yang satu ini. Ibadah ini tak bisa diganti seperti ibadah-ibadah lainnya. Orang sakitpun diharuskan untuk melaksanakannya dengan cara-cara tertentu. Apakah kita sudah melaksanakan secara rutin atau bolong-bolong, sudah kita melaksanakannya tepat waktu, sudahkan kita melaksanakannya dengan benar dan khusu dan sudahkah kita shalat hanya mengaharpakan ridha Alloh (Ikhsan)


Ibadah shalat mempunyai makna yang mendalam. Perintah shalat adalah mendirikan shalat dalam artian bareng- bareng, berjamaah. Ini mengisyaratkan untuk senantiasa menjalin silaturahmi, kompak, dan senasib sepenanggungan. Pada apakah shalat kita berdampak pada kehidupan sosial kita. Kenalkah kita dengan orang-orang yang di samping kiri kanan kita yang kita berikan salam. Tahukah kita akan kesusahan jamaah kita, Pernahkah kita ikhlas gotong royong, bercengkrama dengan warga sekitar kita? Seberapa sering..? dan berbagai macam pertanyaan selayaknya kita utarakan kepada diri kita sendiri.

Wallahu a’lam bi shawab.

Mohon maaf jika ada kekurangan.

Oom Nas