Beranda »


Ketika saya merenung, orang tua saya berkata dan menatap sambil berkata, "Anakku, carilah Galaksi yang memiliki es, dan ledakkan ‘Peluru Hadron’ itu, Bumi yang baru akan terbentuk. Setelah itu sebarkanlah Gen DNA ke sungai, danau dan laut di Bumi yang baru. Kehidupan baru akan dilahirkan, dan berkembang."

Saya pun menyadari makna sebenarnya penerbangan di atas kapal luar angkasa ini.

Orang tua saya saling memandang sebentar, kemudian menganggukkan kepala, sepertinya memutuskan beberapa fakta-fakta yang telah disepakati.

Orang tua saya berkata, "Bawalah orang-orang ini pergi, ini adalah kapal yang terakhir."

Orang-orang yang lain bergegas dan mengatakan, "bagaimana dengan kalian?"

Kedua orang tua saya menjawab, "Mereka sudah datang, kami tinggal di sini untuk melawan. Selamat tinggal, nak."

Saya belum sempat merespon masih diam di tempat, pikiran jadi kosong. Tapi saya masih bisa melihat orang tua saya melangkah dengan cepat turun dari pintu, turun dari pesawat ruang angkasa.

Kaum materialisme semakin dekat dengan kapal terbang dan mulai melakukan penyerangan.

Orang tua saya memang sudah berencana tidak turut dengan kami, mereka tidak hanya mau tinggal melawan kaum materialisme, mereka memiliki terlalu banyak kebijakan dan informasi, maka manusia planet mati-matian mengejarnya. Oleh karena itu, keselamatan kapal juga terancam.

Demi segalanya di kapal dan masa depan umat manusia, mereka harus berkorban, dan sekarang mereka sedang berada di luar kapal, menggunakan sumber daya yang terbatas berjuang untuk melindungi kami agar bisa pergi.

Berpikir sampai di sini, saya hanya bisa menahan kepedihan membangkitkan semangat, masuk ke dalam ruang kendali pesawat.

Saya mengikuti petunjuk orang tua saya, menempelkan dua lembar kepingan pada dua sisi kapal, duduk bersila memancarkan pikiran, ini adalah metode operasi peluncuran pesawat terbang.

Pesawat terbang secara perlahan menjauh dari daratan. Kapal yang membawa orang-orang baik, dibebani dengan kumpulan peradaban manusia, mencampakkan waktu, meninggalkan sejarah, meninggalkan segala-galanya, meninggalkan Ibu Pertiwi yang telah jutaan tahun mengandung kami. Dan saya juga meninggalkan tanah air tercinta saya, serta kedua orang tua saya.

Kapal baru saja memasuki ruang angkasa yang gelap, hal-hal menggemparkan telah terjadi.

Para Dewa yang telah menunggu segera mengulurkan tangannya, siap menghancurkan Bumi yang telah bobrok, yang telah terkontaminasi, yang telah memar.

Dalam sekejab kehancuran ibarat malam gelap gempita, seperti tsunami turun ke Bumi.

Orang-orang melihat ke luar jendela dan melihat seberkas cahaya menghantam Bumi kemudian diikuti dengan ledakan keras.

Dalam sekejab mata sudah tidak ada apapun di depan mata. Tidak ada reruntuhan, tidak ada debu, tidak ada jejak tanda apapun, hanya tertinggal keheningan dan kehampaan yang memilukan. Kami, kemudian tidak memiliki rumah lagi untuk kembali.

Tahun-tahun berikutnya, dari pada dikatakan mencari lebih tepat disebut mengembara, tetapi itu sebenarnya lebih mirip melarikan diri.

Kami terapung di alam semesta, mencari galaksi yang memiliki es juga galaksi yang cocok untuk regenerasi Bumi.

Kami mengunjungi planet-planet dengan berbagai macam kehidupan yang berbeda ini juga penuh resiko.

Pesawat ruang angkasa kami memiliki eko-sistem untuk mempertahankan kelangsungan hidup semua orang agar tidak bermasalah, tapi kita tidak bisa mengambang terus di kegelapan ruang angkasa yang tanpa batas.

Situasi yang lebih buruk lagi, kehidupan planet luar yang selama ini ditahan oleh para Dewa, kali ini akhirnya mendapat kesempatan terbaik.

Meskipun tidak jelas bagaimana mereka tahu, tapi saya pikir mereka pasti tahu di atas kapal kami ada ‘Peluru Hadron’ yang bisa membuat mereka untuk membangun kembali rumah mereka dan spesies DNA.

Mereka mengejar tanpa henti, dan terus menyerang kami, karena teknologi mereka lebih unggul, walaupun kami telah menggunakan teknologi untuk berubah menjadi partikel melaju dengan kecepatan tinggi, tapi masih saja tidak bisa melepaskan diri dari penyerangan mereka.

Waktu berjalan dengan cepat, kami mencari terus, melarikan diri, menunggu, dan mempertahankan diri.

Dalam bertahan ini, kami menghabiskan hari demi hari. Orang-orang di kapal, di rumah sementara ini, melewati kehidupan biasa yang stabil, lama-lama terbiasa dengan kehidupan seperti ini.

Di sisi lain, perjalanan yang susah, ditambah dengan penggunaan kekuatan supranatural yang berlebihan, lama kelamaan, baik fisik dan spirit kami jadi sangat lelah.

Suatu hari, karena saya sangat lelah, saya tertidur hingga bermimpi. Dalam mimpi, ada seberkas cahaya berkilauan, Buddha raksasa yang paling besar datang di hadapanku. Dia penuh belas kasih dan mengatakan, "Mulai sekarang, kalian sudah tidak perlu mencari lagi. Alam semesta akan diluruskan, Bumi telah ditata kembali, semua makhluk akan terlahir kembali. Sekarang kalian ikut saya bereinkarnasi ke kehidupan berikutnya, bahtera kalian akan dilindungi oleh para Dewa."

Jiwa saya kemudian meninggalkan tubuh, dengan cermat mengikuti Buddha raksasa, saya takut Sang Buddha menghilang dari penglihatan saya.

Akhirnya, Sang Buddha berhenti dan berkata, "Kita sudah sampai."

Saya melihat sekeliling apapun tidak ada di depan mata, tapi saya tahu, di sini adalah rumah dari banyak generasi umat manusia.

Saya melihat para Dewa berkumpul di orbit Bumi semula, dan kemudian dalam sekejap, mata bahkan tak sempat berkedip, Bumi baru telah dilahirkan.

Lautan yang bewarna hijau, tanah yang subur, aliran awan seperti goresan pensil warna, dalam tirai kegelapan dengan latar belakang alam semesta, sebuah planet biru sedang berotasi menampakkan nafas kehidupan.

Saya sangat terharu dan berlutut di lantai, bersujud di hadapan Sang Buddha, berteriak dengan kencang, "Guru…" Air mata yang selama ini terakumulasi di hatiku akhirnya mengalir deras.

Setelah terbangun, saya penuh sukacita, tetapi di antara perasaan tersebut terbesit melankolis yang tak bisa dijelaskan. Meskipun sulit untuk menjelaskannya, tapi saya tahu, semua yang ada dalam mimpi itu benar, Dharma Buddha tak terbatas, Bumi telah dibangun kembali. Saya mengubah jalur penerbangan kapal, mengatur arah ke koordinat Bumi.

Tujuan akan sampai, perjalanan akan berakhir, orang-orang menempel ke jendela melihat keluar, jantung yang berdebar sulit diungkapkan.

Dengan tujuan yang semakin dekat, orang akhirnya melihat, sebuh titik biru bulat bercahaya akhirnya muncul di pandangan mata.

Pada saat ini, lembaran sejarah baru sudah terbuka. Saya dengan hati yang tulus, membuka corong pengumuman di kapal, dengan suara kecil memberitahu kepada orang-orang, seperti sebuah ritual,

Perjalanan ke Bumi sudah sampai, perjalanan selanjutkan, kalian yang memutuskan. Jika ingin tinggal di kapal, peralatannya lengkap, cukup memenuhi kebutuhan jangka panjang kalian. Yang penting adalah, seberapa lamapun kita meninggalkannya, terhadap kalian itu hanya berupa waktu yang singkat dalam pandangan kalian. Orang-orang yang bereinkarnasi akan segera datang. Bila ingin bersamaku turun ke dunia, di dunia baru, di daratan yang baru, orang-orang yang kembali menaburkan benih peradaban, silahkan bersihkan memori dan kekawatiran kalian dan kita akan dilahirkan kembali." (Erabaru/lim)

Catatan redaksi: Karena bahasa di Bumi masa lalu tidak sama dengan dengan bahasa di Bumi saat ini, penulis meminjam bahasa Bumi yang sekarang untuk mengekspresikan konsep serupa, seperti: Pusat Penelitian Dharma Buddha, Peluru Hadron, spesies DNA, bahtera, dan sebagainya.